Monday, March 20, 2006

Jangan Bikin Iklan Yang Cuma Orang Iklan Yang Ngerti

Sabtu sore kemaren gua berkesempatan berkunjung ke dokter gigi. Itu pun atas desakan istri gua agar tidak menunda-nunda lagi jadwal yang sudah ditetapkan. Dan kebeneran dokter gigi-nya masih ipar-an dengan istri gua. Jadi kurang lebih memberi perasaan sedikit lebih nyaman ketika berhadapan dengan pensil-pensil bor mesin itu. Walau pun setelah dihadapi, tidak seseram apa yang sering kita ingin bayangkan. Beneran.

Maka pergilah gua, istri dan kakak ipar gua. Karena masih dalam suasana persaudaraan, kami dapat masuk ke ruangan praktek berbarengan. Sambil menunggu giliran, kami pun sibuk dengan kegiatan menunggu yang sangat tipikal : baca majalah, bengong dan nonton TV.

Ketika commercial break, ada sebuah iklan kecantikan (disinyalir bisa memutihkan kulit dengan khasiat sari bengkuangnya). Selesai tayangan tersebut, ipar gua langsung nyeletuk “Trus, apa hubungannya putih dengan membuat mertua bahagia?”. Sambungnya lagi, “Aku yang ngga ngerti atau emang gimana ya? Menurutku sih ngga nyambung aja. Masa cuma gara-gara bikin putih kulit lantas segala sesuatunya bisa jadi bahagia.” Kira-kira begitu bahasanya. Pun masih disambung dengan celotehan iklan-iklan lain.

Belum selesai ipar gua berkomentar, ipar kami yang dokter gigi itu pun ikut menambahi “Iya, aku juga suka bingung ama iklan-iklan itu. Suka ngga nyambung deh. Itu juga tuh, yang obsesi jadi pemain bola. Maksudnya gimana ya?” Untung istri gua yang sedang mendapat giliran perawatan, jadi dia hanya bisa membuka mulut tanpa bisa nimbrung juga. Yah, paling nggak dia sih udah biasa dan terkena bias suaminya yang bekerja di periklanan ini.

Yang pasti semua ocehan dan pertanyaan mereka memang tertuju kepada gua. Satu-satunya orang yang berkecimpung di dunia itu dalam ruangan itu.

Walau sedikit banyak mengerti apa-apa saja maksud dari tayangan komunikasi (umumnya) 30 detik itu, gua hanya bisa tersenyum-senyum saja menanggapinya. Gua malas berandai-andai kepada mereka semata-mata mencoba membuat mereka mengerti.
Lagipula itu bukan iklan hasil karya gua. Jadi biarkan saja teman-teman yang membuat iklan tadi yang lebih berhak menjelaskannya.

Dan kalau pun iklan bikinan gua (dan teman-teman) yang dikritik tadi, mungkin gua juga malas untuk menjawabnya.

Bisa dibilang iklan tersebut sudah gagal melaksanakan fungsinya sebagai penyampai pesan. Tayangan tersebut sudah menimbulkan pertanyaan. Kebingungan. dianggap angin lalu sebagai intermezzo dari sebuah sinetron.. Dan ironisnya lagi, rasa jengkel.

Memang oh memang. Tidak semua iklan-iklan itu jelek dan gagal. Tapi tidak sedikit juga yang perlu dibenahi.

Gua juga sangat mengerti kendala-kendala yang dihadapi dalam setiap prosesnya. Bisa jadi produknya yang begitu. Bisa jadi budgetnya ngga segitunya. Bisa jadi target audience-nya yang begini. Bisa jadi strateginya yang segitu-segitu aja. Bisa jadi kliennya yang maunya itu-itu juga. Bisa jadi tim kreatifnya yang cuma segitu. Coba, kira-kira bisa jadi apaan lagi?

Beberapa waktu yang lalu, dalam percakapan intim dengan seorang teman, dia mengingatkan gua akan satu hal. Dan satu hal ini memang sering luput dari pengamatan kita dalam mengamati sesuatu. Kurang lebih begini kalimatnya:

"Dalam kondisi yang salah, biasanya akan ada yang disalahkan sebagai penyebabnya. Dia, dia dan dia bisa jadi penyebabnya. Tapi kita sering tidak mengikutsertakan diri kita sendiri di dalamnya. Sebab ketika semua aspek sudah diteliti dan sepertinya tidak ada lagi yang salah, biasanya kita sendiri yang salah!"

Gua dan teman gua mau mencari teman yang sependapat dengan ini.

Friday, March 17, 2006

Sedikit Tentang Penulis..

Judul di atas cuma gua pinjam. Sering dipakai di akhir dari sebuah buku atau artikel. Biasanya berupa rangkuman perjalanan hidup si penulis beserta tetek bengek latar belakangnya and so on.

Sedikit tentang gua,

Sekilas orang akan mendapat kesan bahwa gua itu orangnya sepak. Arogan. Nyolot. Dan kawanan kata yang sejenis. Agak sulit mendapatkan impresi pertama gua sebagai : mengayomi, baik budi dan tidak sombong, bijaksana dan peran-peran non antagonis lainnya. Boro-boro kesan ngangenin yang selalu gua gembar-gemborkan itu!

Di beberapa chapter lain juga orang bisa mendapat impresi bahwa gua itu kemayu, feminin dan juga beberapa asosiasi lainnya. Ini mungkin dikarenakan gesture badan gua yang konon mendukung faktor-faktor tersebut. Padahal kalau gua perhatikan lagi, bukannya gua meminum teh dari cangkir dengan kelingking melenting. Enggak kok :)

Tapi baiklah. Namanya juga 'sedikit'. Jadi gua akan berhenti sampai di situ saja.

Yang menarik dari hal ini adalah bagaimana diri kita diproyeksikan oleh orang lain. Pihak kedua yang menyerap 'enerji' yang kita pancarkan. Ya itu tadi, bisa positif dan negatif. Yang pada kenyataannya kalau kita mau gali lebih dalam lagi, bisa jadi data-data awal tadi adalah salah atau bisa juga semakin benar adanya.

Gua tertarik untuk menilik kembali filter/kamera/lensa 'sanubari' mereka yang menerima impresi kita tadi.

Kalau seseorang bisa menerima enerji positif, apakah karena dia juga mempunyai enerji yang positif? Atau sebaliknya?

Kalau gua dikatakan arogan, apakah orang yang membuat kesan tersebut memang arogan juga? Coba deh, orang rendah hati mana yang bisa come up dengan impresi itu. Paling-paling dia akan mencari kata lain yang lebih down to earth. Dan bagaimana pula kita bisa mengatakan seseorang itu baik kalau kita tidak mengerti apa arti kebaikan itu sendiri. Ya ngga sih?

Dulu pernah juga gua bahas di blog ini. Tentang petuah mentor gua, bahwa jika kita memaki orang 'goblok', sebenarnya makian itu hanya akan membuat kita sedikit lebih pintar. Ya, artinya memaki kata tersebut tidak baik karena bisa saja kita juga sama gobloknya dengan orang itu. Singkat kata, mbok ya ngaca gitu lho!

Jadi memang ada baiknya kita selalu berbuat baik. Memuji orang cantik mungkin membuat diri kita semakin cantik. Berbuat baik bisa jadi mengurangi enerji-enerji yang negatif. Secara rumus matematika selalu membuktikan perhitungan positif dan positif selalu menghasilkan nilai positif.

Setelah membaca ini, gimana kalau kita menyapa orang dengan "Hai cantik.." juga "Hai ganteng..."
Terserah ke siapa aja.

Ah.. indah.

"Doesn't have a point of view
Knows not where he's going to
Isn't he a bit like you and me"
Nowhere Man, The Beatles

Tuesday, March 14, 2006

Semoga Lekas Sembuh

Dulu sewaktu masih sekolah, menderita sakit ringan seperti demam atau flu adalah kesempatan yang bisa jadi menguntungkan. Yoi, ngga usah masuk sekolah. Nggak mesti ketemu guru-guru nyebelin (entah kenapa di zaman gua, guru-guru itu adalah momok yang sama sekali tidak menyenangkan. Sangat jarang yang menyenangkan.). Ngga ada PR yang menunggu. Paling cuma kangen temen-temennya doang.
Bisa nonton TV seharian. Walau pun setelah ditelaah lagi, cuma sensasi kebebasan nonton TV di jam sekolah itu saja yang menyenangkan. Suguhan acara di TV mah itu-itu aja dari dulu. DAN SAMPAI SEKARANG. Bukan begitu?

Di masa kuliah dan kerja juga begitu. Fungsi sakit masih memiliki arti rancu. Antara benar-benar sakit, atau memang niat bolos. Entah sudah berapa praktek dokter permisif yang mau mengeluarkan surat dokter demi menjaga kelancaran administrasi instansi-instansi kita ini.

Sedikit perbedaannya dari masa kecil dulu adalah, kali ini kita harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit nominalnya. Baik yang bokis maupun beneran. Dan apalagi dokat tersebut sudah harus ditanggung kita sendiri. Moso ya mau ngibul minta ke ortu.

Sekalipun kita sakit beneran juga, biaya obat sekarang memang selangit. Makanya, sudah saatnya memang kita menjaga kesehatan dan stamina dengan baik. Hal-hal medik ini cukup merepotkan. Ya sakit, ya obatnya, ya surat dokternya, ya reimbursementnya.

Tapi sekarang ada yang lebih bikin gua tergerak untuk menjaga kesehatan.

2 hari ini anak gua, Kiara terserang pilek dan batuk. Dalam aktifitasnya sehari-hari tidak begitu banyak berpengaruh. Dia tetap ceria walau pun agak terbatas dalam staminanya. Tapi tetap terlihat enerjik.

Hingga saatnya tidur tiba, di sini lah letak permasalahannya. Hidungnya mampet. Dan tidak jarang dia harus terbatuk-batuk ketika tidur. Tidurnya gelisah, geser sana-sini mencari posisi yang enak. Telungkup ngga enak, baringan juga mampet. Repot banget.

Akhirnya dia menangis. Dan Kiara yang masih berumur 1,5 tahun pun cuma bisa ngomel dengan bahasanya sendiri. Kami hanya bisa mencoba menenangkan Kiara dengan sebaik-baiknya. Belum lagi Kiara sudah mulai mengenal apa yang namanya obat. Jadi begitu melihat sosok obat tersebut, dia sudah protes. Kami cuma bisa mengusahakan kesembuhannya dengan memberi makan yang cukup dan menjaga gerak-geriknya agar tidak terlalu membuat dia kelelahan. Selebihnya Kiara yang nentuin :)

Begitu deh. Melihat Kiara sakit itu rasanya nggak enaaak banget.
Pantesan aja dulu nyokap tuh kalo gua lagi sakit bawelnya banget-banget. Apa-apa aja aturan dia dulu memang gua lupa. Dan belum tentu juga apa yang nyokap gua ajarin plek-ketiplek gua ajarkan ke Kiara. Masing-masing pasti punya versinya lah. Tapi perasaannya sama: rasa kasian, iba, ngga rela dan pengen ngeliat dia sehat lagi.

Begini toh rasanya jadi orang tua.

Friday, March 10, 2006

Serial Sidik is Back!!

Image hosting by Photobucket