Wednesday, July 09, 2014

Indonesia itu Kecil

Buat saya Indonesia itu kecil.

Setidaknya hanya 1753 orang yang terhitung 'berteman' di Facebook saya. Segelintir follower di Twitter dan ratusan orang di Path.  Kalau harus berbanding dengan ratusan juta populasi negri ini.

Belum lagi dalam kesehariannya, semakin sedikit jumlah orang yang berinteraksi di rumah, pekerjaan, dan orang-orang menyebalkan di jalanan (saya kan kelas menengah ngehek, wajar dong bilang orang di jalanan menyebalkan.)

Jadi nanti saya akan datang ke TPS untuk memilih presiden, itu atas sebuah harapan yang bisa membawa perubahan lebih baik terhadap jumlah orang di atas. Dan bagi saya tentunya.

Perubahan lebih baik yang saya maksud itu realistis. Sebut saja kesejahteraan; gaji, rupa-rupa cicilan, biaya sekolah, dan segala urusan uang. Kenyamanan publik; transportasi, keamanan, lingkungan.

Semua unsur di atas selalu berinteraksi dengan kita setiap hari tanpa disadari menjadi sebuah mesin kehidupan yang dibiarkan semrawut, tak terurai, dibiarkan korup dan ironisnya diterima menjadi standar hidup. Pernah ada reformasi, tapi delay lagi 10 tahun. Se-pu-luh-ta-hun.

Itu masih hal yang mendasar.

Saya gak bicara online shopping, SALE anu itu, antrian (parkir) di mal yang berkepanjangan, motor mobil nyerempet semaunya, orang mau beribadah digangguin, macet banjir nyalahin gubernur padahal antri gak mau malah buang sampah sembarangan.
Saya gak bicara siapa yang beragama radikal, penganut komunis, musisi njiplak, melanggar hak asasi, mangkir peradilan, bukan Islam, Non Muslim, etnis Tionghoa.

Bukan.
Karena hal-hal seperti itu gak primer-primer amat sebenernya. Cenderung menjadi lapisan masalah yang sering dipinjam oleh kita untuk menjadi satu masalah penting. Seolah-olah penting.

Penting gimana coba, kalau besok setelah pemilu kita masih kembali pada kebiasaan yang gak mau kita tinggalkan?
Masalah-masalah itu hanya akan seru kalau diperdebatkan dengan lawan, siapa pun yang mau melawan. Ada aja sih. Hahahaha.

Karena memilih bukan tentang masalah di tataran itu belaka. Pun terlalu cemen karena baru dikemukakan di masa kampanye doang. Selama ini ke mana saja? Oh, iya, sibuk. Baca paragraf ke 8.

Jadi, bisa ikut melakukan perubahan dalam skala kecil di sekitar kita itu sudah menjadi langkah awal yang baik, pun nyata. Karena kesinambungannya terjadi setiap hari. Hari-hari itu terus bergulir menjadi masa depan. Masa depan pun selalu menjadi tanggung jawab. Biar jangan ngomel terus kalo melihat kekurangan sana-sini, padahal kontribusinya nol. Walau saya sangat menghargai kalau diam saja.

Ini juga bukan pertanyaan harus milih siapa.

Coba cek lagi konteks kesejahteraan dan kenyamanan di atas.

Pikirin lagi.

TPS tutup jam 13.00.







0 Comments:

Post a Comment

<< Home