Wednesday, March 04, 2009

MARI MEMILIH CALEG

OK. Semakin maraknya baliho-baliho calon legislatif dengan perangai yang sering membuat kita tersenyum semakin dekat pulalah waktunya untuk memilih.

Sudah tahu mau memilih siapa?

Saya juga sejujurnya belum. Dari sekian banyak muka mereka yang menghiasai (kalau tidak mau dibilang mengotori) pemandangan jalan di sekitar kita, yang tiba-tiba saja tersenyum, berwibawa, bersahabat atau malah seadanya hampir tidak ada muka yang saya kenal. Kecuali Pak Wiranto, mantan Pangab itu. Mereka tiba-tiba saja menjadi sosok tokoh yang diyakini akan membawa banyak perbaikan untuk masa depan... negeri kita yang dengan sedih saya cintai*. Mengenal latar belakang mereka saja susah, gimana mau menaruh harapan yang baik?

Pun demikian kali ini saya ingin keluar dari paham golput yang selama ini secara sengaja maupun tidak saya jalani. Sepertinya tidak ada faedahnya untuk membiarkan satu hak suara melayang begitu saja dan membiarkan sebuah keputusan bersama menjadi sistem yang kemudian kita hadapi lagi di kemudian hari, dan dikeluhkan lagi. Rugi toh? Mending dukung saja salah satu yang dianggap bisa mewakili kata hati kita.

Kata hati yang saya kedepankan tidak muluk-muluk seperti kalimat-kalimat patriotik atau menentramkan jiwa yang biasa kita temui di poster-poster itu. Saya lebih mengajak kita mengulas lagi pemandangan poster itu satu per satu. Coba kita lihat mana tampilan yang paling sesuai dengan selera kita. Biar bagaimana pun ini menyangkut selera. Kalau mengatakan ini masalah politik atau kepentingan rakyat sepertinya terlalu besar gambarannya kalau mau dikaitkan kepada pribadi masing-masing. Belum sampai ke situ juga kepentingan kita, dan mungkin juga kapasitas kita.

Mari kita lihat profil muka yang paling menarik. Bukan paling cantik atau gagah. Bukan paling dangdut atau rockstar. Mana yang benar-benar sungguh-sungguh membubuhkan foto dirinya secara bertanggung jawab untuk dipertontonkan ke khalayak ramai. Kita bisa menilai dari kesahajaan fotonya, ekspresi mukanya atau pakaian yang dikenakannya. Apakah pejabat wannabe, baru keluar dari salon, di samping tukang bakso, foto studio maupun secara candid. Semua effort tersebut biasanya mencerminkan pribadi masing-masing.

Kemudian mari kita baca headline-nya. Biasanya kalimat yang paling sederhana dan gampang dimengerti oleh anak kecil sekalipun, itulah yang paling sukses menyampaikan pesannya. Kita tahu yang klise. Kita tahu yang muluk-muluk. Tapi kita ingin membaca yang gampang dimengerti. Bukan selebaran iklan atau pengeras suara lagi yang harus menjelaskannya.

Lay out atau tampilan gambar yang disuguhkan juga punya peranan penting. Semakin genah sebuah tampilan semakin sederhana pesan yang disampaikan. Semuanya bersinergi untuk sebuah tampilan yang menarik dan pantas. Dari sini terlihat partai tersebut mempunyai struktur berpikir yang terencana dan rapi. Sukur-sukur indah. Yang bisa, mudah-mudahan, mencerminkan cara kerja mereka sekarang dan di kemudian hari. Dan tentu saja kita akan dengan mudah mengenali tampilan yang carut marut, old school, tidak enak dilihat dan tidak simpatik.

Tentu saja bagi yang sudah punya pilihan pasti silakan memilih dengan yakin. Atau yang harus mendukung salah satu saudaranya yang kebetulan ada di bursa caleg ini.

Ini hanya sekedar sumbang saran dari saya, seorang art director pengarah seni yang berkutat dengan hal-hal pencitraan dan penyampaian pesan di kesehariannya.

Dan yang pasti... lebih punya taste! :)

*dikutip dari Ayu Utami, di buku 'Bilangan Fu'.

Thursday, February 05, 2009

Aku Cinta Kau dan Dia

Sahabatku berteman dengan dia, yang sepupunya si itu. Sepupunya itu dulu satu kelas dengan rekanku sekarang. Yang ketika suatu hari aku mendapati dia pun mengenal iparku, cucu dari kerabat orang tuaku ketika bersama-sama dalam masa pendidikan zaman itu. Tak heran aku selalu bertemu teman sahabatku tadi di berbagai kesempatan. Walau tak berteman langsung, ada saja yang mengenal dia melalui orang yang kukenal, seluas apa pun dunia pada saat itu. Atau nanti. Pun kalau masih mau mengingat masa lalu, masih besar kemungkinan bahwa ternyata aku akan berjabat tangan sembari menyebutkan nama dan senyum. Jika memang nasib, kami pun berteman. Seperti sahabatku tadi.

Lalu kita berperang melawan siapa?

Cinta. Benci.

Dulu, sekarang dan nanti masih bersahabat.

"I am he as you are he as you are me and we are all together."
I Am The Walrus, The Beatles.

Sunday, November 16, 2008

Apakah Anda terkena sindrom "Autis"?

Belum lama ini saya baru saja mempunyai perangkat canggih yang konon paling mutakhir. Namanya (tentu saja) Blackberry. Memang benda yang satu ini mampu membuat orang berkutat hampir setiap menit kapan saja menerima incoming email, chatting atau sekedar mengoprek GPS, upload foto ke Facebook dan lebih dramatis lagi, mengganti setiap nomer contactnya dengan imbuhan "+62"...

Dengan maraknya tren Blackberry ini sering kita mendapati pemiliknya seperti sedang berada di luar jangkauan dunia nyata. Dua tangan memegang handheld (begitu sebutannya) dan mata konsentrasi penuh ke alat kecil itu. Disertai berbagai mimik yang beragam. Mirip ketika tren internet, chatting online, gaming online mendunia. Semua terlepas dari dunia nyata dan terhubung sangat dekat dengan dunia maya.

Sampai akhirnya di beberapa komentar foto yang tertangkap di banyak postingan Facebook dan social engine lainnya sering tertera "Si Anu lagi autis...". Tentu saja di foto tersebut si Anu tadi sedang berkutat dengan Blackberry-nya.

Lalu di kerumunan teman-teman yang lagi nongkrong sering juga didapati komentar yang sama; si anu sedang autis dengan Blackberry atau laptop yang sedang ber-wifi. I guess you get my picture.

Apakah sindrom tersebut benar-benar sindrom Autis.

Tentu saja tidak.

Istilah Autis hanya dipinjamkan dan dialamatkan ke mereka yang berkecenderungan yang sama seperti penderita autis. Tidak berada dalam dunia yang sama. Tidak berada dalam frekwensi yang sama. Tidak tersentuh oleh sosial pada umumnya. Ngga nyambung. Ngga ngerti.

Bisa-bisa, ngga asik. Ngga lucu. Aneh. Terpencil. Dan konotasi yang semakin miris lainnya.

Di sinilah permasalahannya dimulai.

Salah satu dari mereka yang didiagnosa Autis tersebut hidup di lingkungan saya. Ada macam-macam kecenderungan Autis yang bisa didapati. Ada yang pendiam, ada yang hiperaktif, ada juga yang histeris. Keberagaman output dari Autisme umumnya hanya bermuara pada satu hal: tidak dapat berkomunikasi sebagai mana layaknya manusia sosial yang normal. Ini yang membuat mereka berada dalam klasifikasi 'khusus'. Kalau tidak mau mengklasifikasikan pada konteks yang lebih tidak enak.

Kesehariannya mereka harus kita hadapi dengan perlakuan yang tidak biasanya seperti kita biasa berkomunikasi satu sama lain. Sehari-hari. Bukan setiap hari Jumat. Bukan setiap hari Minggu. Bukan bulanan. Bukan musiman.
Pastinya, dibutuhkan kesabaran yang ekstra. Kemauan kita untuk lebih mengerti mereka. Dan kebesaran hati kita untuk selalu berada untuk mereka sebagai manusia. Bukan orang gila!

Dengan tulisan ini saya ingin mengajak pembaca untuk lebih sensitif lagi menggunakan kata autis sebagai sebuah kata yang tidak seringan atau setrendi ketika mengucapkan; 'Secara', 'Capedweeeh...', 'Khale' dan lain-lain.

Saya yakin, dengan memahami sungguh-sungguh apa arti kata itu, sudah memberi sedikitnya senyum bagi mereka.

Tulisan ini adalah dukungan untuk slogan "STOP PENYALAHGUNAAN KATA AUTIS/AUTISME".

Wednesday, October 01, 2008

Suatu Hari di Ruang Praktek Grafis

Dokter G:

Sambil duduk di mejanya, melihat dari kacamata Rudy Project-nya.

"Silakan duduk, keluhannya apa?"


Pasien:

"Anu, Dok... Dari kemaren komposisi saya selalu gak enak. Di horizontalin salah, vertikal makin pusing."


Dokter G:

Menunjuk ke arah monitor

"Mari silakan kita lihat masalahnya... Mau dari Frihen, Illustrator atau Photoshop?" seraya menerima USB drive dari pasien.


Pasien:

"Saya bawanya JPG, Dok..."


Dokter G:

"Hmm... lebih bagus sih kalau sampeyan bawa PSD atau TIFFnya. Biar kita bisa lihat layer per layer. Dari situ kita bisa lihat di mana masalahnya."


Pasien:

"Eh iya... anu... tadi saking pusingnya dari rumah langsung ke sini Dok. Jadi gak sempet ngeburn ke CD. Cuma sempet Print Screen aja, itu juga udah dicoba ganti ke JPG, takutnya PNG gak kompatibel ke komputer sini..."


Dokter G:

*serius memperhatikan*

Beberapa kali melakukan zoom in - zoom out sambil menginstruksikan si pasien membuka mulut dan mingkem.

"AAAAA...... MMMMM...."


Pasien:

"AAAAA...... MMMMM...."


Dokter G:

Selesai mengevaluasi, kemudian mempersilakan pasien kembali ke mejanya.

"Ya sudah silakan..."


Pasien:

Membereskan file-filenya.


Dokter G:

"Mbak, dari tadi saya lihat di monitor mbak sering sekali mengkonsumsi Tahoma dan Verdana. Bener kan?"


Pasien:

"Egh... He-eh iya dok... Emang gak boleh sering-sering ya Dok?"


Dokter G:

"Tahoma itu mengandung banyak Serif dan Verdana itu sering bikin mata kaku. Karena bentuknya juga kaku."


Pasien:

" Oh gitu ya. Kalau gambarnya ada masalah gak, Dok? Soalnya itu hasil dari kamera henpon, gak pa-pa ya kalo gak 300dpi?"


Dokter G:

" Mestinya kalo dari kamera minimum 2.0megapixel sih gak apa-apa. Toh ini kan penggunaan dalam. Kalau mbak malah ke tempat-tempat generik di mal-mal malah bisa disuruh opname 3 hari tuh Mbak..."


Pasien:

"Iya tuh Dok!... Kemaren saya ke tempat cuci cetak di mal dibilang gitu emang. Main langsung vonis 3 hari gitu. Katanya ada komplikasi pembesaran ke 8R malah."


Dokter G:

"Hehehe... itu biasanya tempatnya disponsorin merek tertentu, jadinya mereka selalu menganjurkan pemakaian merek mereka."


Pasien:

"Oh gitu ya dok... pantesan kemaren ipar saya dari sana jadinya cetak satu album besar..."


Dokter G:

Selesai dengan resep kemudian memberikan kepada pasien.

"Ini keluarga Helvetica Neue, dikonsumsi ketika hendak menggunakan bodycopy. Kalau tidak ada bisa juga Arial atau Grotezk. Times New Roman boleh juga. Asal jangan sering-sering...

Kalau untuk headline boleh pake yang fancy-fancy asal masih terbaca dengan jelas. Headline juga gak usah panjang-panjang, nanti susah bacanya..."


Pasien:

"Dokter disponsorin ama Helvetica juga ya?"


Dokter G:

"Hus... enak aja!..."


Pasien:

"Kan suka gitu Dok... kayak dokter bilang tadi, biasanya mereka disponsorin ama merek tertentu..."


Dokter G:

"Enggak kok Mbak, Helvetica ini nyaman sekali untuk mata dan banyak sekali variannya. Dari Thin, Extended, Condensed sampai Black. Ini sudah resep turun temurun. Dan mendunia. Jadi mbak gak usah takut. Ini sudah diakui badan grafis dunia."


Pasien:

"Oh ok. Dosisnya seberapa Dok?"


Dokter G:

"Cukup 3 kali sehari. Dilatih pake rata kanan dan kiri ngga perlu justified. Leading renggang dan sempit. Jangan lupa kerningnya yang disiplin."


Pasien:

"Baiklah. Terimakasih ya Dok..."


Dokter G:

"Mariii... kalau ada keluhan boleh datang lagi. Ngga perlu datang minggu depan..."

Friday, June 27, 2008

Si Misterius

Ini cerita tentang pengalaman sahabat saya.
Suatu hari dia kedatangan orang penting di kantornya. Layaknya inspeksi mendadak, mereka satu per satu pun mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Seperti konsultasi dokter, mereka bergantian masuk ke ruangan si orang penting itu. Layaknya ruang tunggu dokter juga, situasi itu pun sering membuat kebanyakan orang was-was akan hal-hal seperti; 'penyakit yang diderita', 'biaya yang dibebankan', dan lain-lain seterusnya.

Beberapa kolega kantornya sudah keluar dari ruangan itu dengan muka sumringah. Pertanda mendapat hasil yang bagus. Atau komentar yang bagus, syukur-syukur pujian. Bisa selangit rasanya. Orang penting gitu lho... Namun tidak demikian halnya dengan sahabat saya ini. Dari semua kolega kantornya yang masuk ke ruangan tadi, dia malah orang yang paling lama harus berada di ruangan itu. Dan bisa ditebak juga, hasilnya bukanlah kabar baik. Padahal sahabat saya ini bukanlah bodoh. Cemerlang, bisa dibilang begitu.

Ketika keluar dari 'ruangan gas' dengan wajah yang sedih, salah satu temannya dengan penasaran bertanya apa yang terjadi. Dengan masih lesu dia kemudian menjabarkan apa saja yang dikatakan si orang penting tadi di dalam. Bahwasanya sahabat saya itu ternyata kurang dalam ini dan itu. Harus lebih begini dan begitu. Lebih diarahkan ke sini daripada ke situ. Jangan terjebak ke ini, mendingan alihkan ke yang lebih baik. Dan masih banyak lagi. Cukup membuat dia sangat rendah diri di mata teman-temannya. Tentu saja teman-temannya, malah bukan si orang penting itu. Hehehe.

Dari keminderannya kalau dibandingkan dengan teman-temannya yang lain tadi, sebenarnya sahabat saya itu mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga dari sekedar 'masuk-ya-senang-keluar dengan muka bangga' tadi. Bagaimana tidak, hanya dia yang mendapat pengarahan langsung dari orang penting tadi. Dia pun berkesempatan mengetahui kesalahan-kesalahan yang dia sering tidak sadari sebelumnya. Sebagai bonus, dia pun mendapat anjuran akan apa yang mestinya dilakukan! Satu kelebihan yang teman-temannya tidak dapat. Walau pun, hehehe... mungkin juga teman-temannya yang lain tadi sudah tidak perlu bimbingan lagi.

Tapi, sesering apa sih kita bisa melihat sebuah proses dengan jelas dan mengerti lalu kemudian mendapat berbuat sesuatu yang lebih baik lagi dari situ?
Kalau sedang dalam suasana khusyuk dan ideal setelah membaca bacaan seperti ini sih, saya akan bilang "Setiap saat doooong..."
Tapi come on lah, enggak kan?

Saya bersyukur bisa mendengar cerita ini. Seperti menyadarkan saya dari doa-doa yang sering saya tunggu jawabannya. Daripada menunggu, ternyata kita bisa melihat jawaban itu dari sisi lain. Semua tanda-tanda alam, bahkan kejadian sehari-hari. Lagian, saya juga belum pernah ngobrol ama Tuhan; saya berbicara, dia membalas langsung. secara audio! Dia selalu menjawab dengan caraNya.

Si misterius!

Sunday, April 20, 2008

Papa Banyak Duit

Baru-baru ini Kiara, putri sulung kami yang berusia 3,5 tahun, diajak Mamanya jalan-jalan ke PI Mall. Karena bukan akhir pekan, maka agenda perjalanan kali ini tidak seperti biasanya; naik merry go round, ke Gramedia dan kalo beruntung ke toko mainan di Metro atau Toys City.

Seperti sudah menjadi ekspektasinya, Kiara kemudian menanyakan kepada Mamanya:

"Mama, kok kita nggak beli My Little Pony sih?"
[My Little Pony adalah mainan boneka kuda kecintaan Kiara yang sangat banyak variannya dan terus menerus mengeluarkan varian terbaru. Cukup mahal untuk sebuah mainan sehingga kami mempunyai kebijakan untuk membelikan Kiara secara berjangka atau pada momen-momen tertentu saja. Pun demikian, kakek, nenek, tante dan pamannya cukup sering mengacaukan kebijakan ini. :)]

"Mama lagi nggak punya duit, sayang..." kata si Mama. Masih mencoba meyakinkan Kiara, si Mama menambahkan, "Nanti yah, Mama kerja dulu biar dapat duit buat beli My Little Pony-nya..."

Dengan kesederhanaan pikiran dan logika seorang anak berumur 3,5 tahun, Kiara pun berkata

"Kalo gitu minta sama Papa aja yah, kan Papa kerja melulu..."

Wiw!!!
Butuh beberapa waktu untuk mengkaji lagi kejadian tersebut.

Tentu saja kalimat tadi sangat lucu dari seorang anak kecil. Di mana dalam alam pikirnya dia sudah mulai menyambungkan berbagai informasi yang dia terima kemudian menyimpulkannya dengan sederhana. Kerja, dapat duit. Banyak kerja, banyak duit! Simpel kan?!

Nah sekarang mari berpikir dari sisi si Papa.

Seketika pengalaman, wawasan, keahlian bahkan penghasilan yang sudah dicapai menjadi basi oleh perkataan polos tadi. Apalagi kali ini berasal dari anak sendiri. Otoritas yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun namun jujur.
Bukan bos, kolega atau office boy di kantor dengan perintah dan arahannya.
Bukan temen sepermainan dengan anjuran dan nasihatnya.
Bukan juga pasangan hidup yang masih bisa kita argumentasikan.

Seperti tidak ada gunanya menjelaskan kerumitan dari semua proses yang biasa dilalui manusia dewasa. Baik untuk dia, maupun diri sendiri!

Sebuah kebenaran memang nggak bisa diutak-atik dari segi mana pun.

Kita orang dewasa emang suka ribet sendiri ya...

[Tulisan ini ditulis pada hari Minggu, jam 10 malam, di sebuah ruang editing rumah produksi... Papa sedang bekerja.]

Monday, April 07, 2008

Pesan Perjuangan

Baiklah saya akan mencoba menyampaikan pesan ini dari akhir.

Ketika saat ini kebebasan akses internet di Indonesia terganggu kenyamanannya diakibatkan film FITNA dan statement dari Roy Suryo yang membuat geram kalangan pengguna internet, saya tertarik untuk membumbuinya dengan pesan yang naif.

Bahwa sebelum nantinya kita bertekad untuk maju ke Menteri Kominfo atau siapapun yang kita anggap berkompeten untuk mendengarkan suara ini, hendaknya kita bisa berjuang dengan tulisan yang lebih berkualitas lagi memperjuangkan kenapa YouTube, Multiply, MySpace dan lainnya tidak perlu ditutup.

Membeberkan segala kebaikan dan manfaat situs-situs tersebut mungkin membantu. Namun jauh lebih ampuh apabila kita bisa membuat sesuatu yang lebih maksimal dari kegunaannya. Membuat situs-situs tersebut memang menjadi sumber informasi yang valid untuk kemajuan bangsa. Memberi inspirasi yang membuat kita bisa berkarya lebih dahsyat lagi.

Niscaya tuduhan-tuduhan sembarangan yang dilontarkan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab akan segera terabaikan bak kentut. Berpulang juga kepada kita, apakah kita cukup menjadi seperti kentut saja menanggapi reaksinya; Sama bau dan tak berisi.

Bertanggung-jawabkah kita?

Teringat segerombolan mahasiswa yang sedang berdemo di jalanan dengan muka berseri-seri. Asal masuk liputan televisi, dapat makan siang gratis, dan hore-hore bersama teman-teman. Di depan, temannya yang sangat serius berorasi sedang memekik segala hujatan tentang kebenaran. Satu orang serius, puluhan lain minus!

Teringat juga ketika, lagi-lagi, dari arah kerumunan mahasiswa yang berdemo Mei 98 itu, terlempar sebuah bungkusan berisi kotoran manusia, hinggap ke muka salah satu aparat yang mereka benci itu. Saya tidak perduli lagi siapa yang benar di situ. Namun sepertinya kita hanya suka berkelahi. Bukan berjuang.

Saya memang sedih ketika Malaysia mengklaim bahwa Batik adalah milik mereka. Tapi jauh lebih menyedihkan melihat reaksi dari kita yang hanya bisa memaki atau memperuncing sentimen terhadap tetangga kita itu. Sepertinya kita memang tidak cukup pintar menjaga tradisi yang baik. Karena mungkin tradisi selalu dianggap kuno. Bahkan agama. Dan tidak semua orang juga senang membahas keagamaan. Jujur saja.

Tiga contoh topik di atas sering sekali menjadi cerminan orang Indonesia dalam menyikapi suatu hal yang secara kandungannya sarat dengan nama bangsanya sendiri: INDONESIA. Norak-noraknya. Esmosi-esmosinya. Fanatik-fanatiknya. Ikut-ikutannya.

Menurut teman saya, dari 200juta penduduk Indonesia, hanya 10% yang menggunakan internet. Mungkin hanya 3% dari jumlah tadi yang punya keprihatinan akan masalah pemblokiran situs-situs ini (yang lain mungkin asik upload foto2 di Facebook dll. hehe).

Maka dari itu saya memohoooon sekali agar kalau kita memperjuangkan sesuatu itu benar-benar pada konsep yang... keren! Nggak sekedar eforia satu bulan. Atau menjadi slogan-slogan kosong di stiker-stiker mobil. Buktikan bahwa kita juga tidak sama kentutnya dengan mereka yang tidak bertanggung-jawab itu.

Bagi yang tidak mengerti jangan juga diajak mengerti. Tidak semua orang harus mengerti kok. 200 juta is a big number, my man!

Di Indonesia ini susah sekali mencari orang yang serius akan kemajuan bangsanya.

Kalau you salah satunya, bijaksanalah!

Labels: