Friday, October 27, 2006

Berkaryalah Anak Bangsa!

Di MTV Cribs lagi menayangkan profil rumah salah satu bekas anggota N'Sync. Itu lho yang jenggotan itu (gua selalu menganggap anggota boyband yang jenggotan adalah A.J). Buset dah! Kalo ngga salah luas rumahnya itu adalah seluas PI Mall 1 dan 2 disatukan. Perabotan premium beserta ruangan-ruangan yang designated menurut aktifitas masing-masing. Kolam renang a la Playboy Mansion. Belum lagi koleksi mobil mahal yang lebih dari jumlah anggota band N'Sync.

Lantas gua mikir, dia aja segitu, gimana Justin Timberlake?! Yang pasti gaji dari salah satu orang pengurus rumah tangganya doi saja mungkin bisa dua kali lipat bos-bos gua di sini kali. Mungkin lho. Mungkin juga gua masih silau dengan penampakan si jenggot yang dengan ramahnya menjadi tour guide propertinya sendiri di tayangan tadi.

Jadi teringat seorang teman yang pernah ngomel sejadi-jadinya atas tingkah laku salah satu temannya yang kebetulan, konon, katanya sih, seorang terkenal. Menurut teman gua, lagak si 'celeb' terlalu berlebihan untuk ukuran orang terkenal. Gimana enggak, penjualan albumnya tidak seberapa. Hits lagunya tidak lebih dari 2-3 lagu, pun tidak mampu bertahan di posisi tangga 10 besar. Kalau lagi manggung, cuma teman-teman dekat saja yang berjingkrak di jajaran depan. Dan kalau pun lagi maksain nongkrong di pelataran coffee shop yang terbuka, ngga ada juga yang lantas nyamperin dia minta tanda tangan atau foto bareng. Namun lagaknya udah kayak Justin Timberlake! Mirip sebuah adegan iklan rokok tentang obsesi jadi celeb. Begitu ujarnya.

Mendengar celotehannya tadi ada beberapa teman yang tertawa sambil ngenyek "Ah, sirik aja loe!" Gua hanya bisa tersenyum. Dan setuju dengan pendapatnya.

Iya lho. Terserah mau sirik atau apalah bentuknya, gua setuju. Sebuah attitude mestinya punya tanggung jawab dan dilatar belakangi pula dengan sebuah prestasi yang bertanggung jawab.

Konon katanya Mariah Carey tidak mau mengeluarkan satu patah kata pun sehari sebelum dia manggung. Caranya berkomunikasi hanya dengan gerakan tangan dan kertas-kertas tulisan. Atau perintah. Bisa ditebak cara absurd seperti itu berhubungan dengan kualitas suara yang akan dia lengkingkan nantinya di panggung. But hey, she can do it. She can pay for it. And she gets a lot of money for doing it. Walau sampai sekarang gua gak bisa ngerti kenapa dia mesti minta semua ruangan hotelnya harus pingki. But hey...

Jadi geng, kita berkarya ajalah dulu. Punya prestasi aja dulu. Ngga perlu terlalu bangga akan apa yang kita punya sampai orang lain yang bangga punya kita.
Biar pantes make kacamata Oakley-nya. Atau kalo pake jaket Adidas satu-satunya di dunia pun, ngga ada yang nyinyir. Dan sukur-sukur bisa bikin band bareng ama Justin dan Mimi!

Oh iya, ini ada bonus cerita:
Seorang (lagi-lagi) celeb (lokal) sedang bertengkar dengan air crew maskapai penerbangan domestik ketika hendak masuk pesawat. Si celeb ngotot untuk tetap membawa gitar yang terbungkus hard case-nya yang besar ke dalam kabin. Ukuran besar itu tidak akan masuk ke dalam bagasi kabin yang di atas tempat duduk dan kalau pun dibiarkan di alley akan sangat mengganggu. Lelah akan segala penjelasan si pramugari dia lantas memotong pembicaraan sembari berusaha memperjelas penampilannya sebagai celeb, "Mbak ngga pernah nonton TV ya?"

Berharap si mbak pramugari bakal mengenalinya sebagai seorang rockstar, si mbak pramugari balik membalas "Mas nggak pernah naik pesawat ya?!"

Hacchhheee..!

"Loe tu gaya loe emang keren
Loe tu lagak lucu dan keren
Loe tu tampang loe keren tapi..."
/rif.

Sunday, October 15, 2006

Di Pinggir Jalan Lebaran

Jalan yang besar itu biasanya dilewati oleh mobil-mobil Alphard, S-Class, Seri 7 atau mobil bling-bling ceper setiap harinya.

Di pinggir jalan situlah Maryadi, Inah istrinya dan Indah anaknya bersiap-siap menggelar kardus usang sebagai alas duduk mereka. Layaknya piknik mereka rebahan di sana. Di samping gerobak sampah yang tadi menjadi trolley si kecil Indah berjalan-jalan bak kereta kencana. Ibunya sibuk membenahi koran bekas dari tumpukan gerobak itu sambil sesekali mengupdate berita selebritis kesayangannya. Yang mungkin lewat di antara mobil-mobil tadi. Harapnya mereka akan bersedekah barang sebungkus nasi kotak dari arisan-arisan mewah.

Hampir seharian mereka di sana. Hampir-hampir Maryadi tidak bekerja. Lebaran sebentar lagi....

Wangki. Iwan Funky. Sedang berjalan meninggalkan rumah majikannya tidak jauh dari blok jalan itu. Cengdem sudah melekat di muka. Rambut spikey, kaos sobek dan jins yang dilinting hampir sampai lutut dan ban kulit tebal melilit gagah di tangan menjadi atribut mudiknya kali ini. Biar mirip Den Rob, anak majikannya yang di sekolah internasional itu. Biar mirip Ian Kasela. Yah... yang begitu lah. You know, man! Piss yo.... Jujur yow...

Tak henti-hentinya Wangki tersenyum. Di benaknya tergambar sanak keluarganya di kampung, berjumpa teman lama sambil pamer hape barunya, main petasan di malam takbiran. Belum lagi si Ceuceu 'kutunggu jandamu'. Seperti dendam yang bertumpuk di hati, semua terbungkus rapat seperti kardus indomi yang dibawanya. Oleh-oleh buat mereka. Mungkin sisa duit THRnya hanya cukup untuk ongkosnya pulang. Tapi tak apa, pikirnya. Momen ini memang tak terbayar oleh apa pun di dunia ini.

Sampailah Wangki di pinggir jalan itu. Menunggu ojek yang mengantarnya ke terminal. Mobil-mobil yang lewat bergantian menempelkan debu di wajahnya. Di wajah Maryadi, Inah dan Indah yang masih dari tadi menunggu. Sesaat mereka bertemu tatap satu sama lain. Apalagi Indah, yang mengingatkan Wangki akan adiknya di kampung. Rindu dan iba yang jujur membaur menjadi satu dalam hatinya. Namun dia bisa berbuat apa?

Datanglah si ojek yang semakin mengkabutkan suasana dengan asap knalpotnya. Tujuan dan harga sudah terucap. Tapi kali ini Wangki setengah mati menawar. 15ribu kata si ojek. 10 ribu tawar Wangki. 14 ribu, 10 ribu, mereka bertek-tok. 12 ribu kata si ojek. Wangki sejenak menghitung dan kemudian setuju.

Dia mengeluarkan lembar 10 ribu dan 5 ribu lantas meminta si ojek memberikan kembaliannya. Walau masih bingung si ojek menuruti juga. Dikembalikannya kepada Wangki 3 ribu.

Bergegas Wangki menghampiri Maryadi dan keluarganya. Diberikannya 1000 kepada Maryadi. 1000 kepada Inah. Dan 1000 kepada si kecil Indah.

Allah maha pemurah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Salam, Diki Satya dan Keluarga

Thursday, October 12, 2006

"Seberapa pintar kita sekarang, hai orang-orang bodoh?"

Pembaca yang baik, mohon tidak tertawa dulu dengan twist kalimat di atas. Ini bukan kalimat ironis yang semata-mata mencari sensasi agar kita tertawa kecil seperti jokesnya Hollywood. Ini juga bukan kalimat sinis yang sirik akan kepintaran orang-orang berilmu atau dukun sekalipun.

Kalimat ini benar adanya. Bahwa kita adalah orang bodoh. Begitu mungkin bahasa kasarnya.

Tapi coba kita pikir, tidak pernah dalam satu hari saja kita tidak bertanya. Apa, siapa, ke-di mana, yang mana, bagaimana, berapa, kapan. Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa kita ucapkan dalam keseharian kita. Sepertinya setiap saat ada kekosongan atau kebutuhan di dalam diri kita yang harus selalu terpenuhi. Sesepele apa pun perkaranya. Entah hanya iseng, serius sampai-sampai pada bentuk sense of survival.

OK. Sekarang, coba kita pikir lagi, berapa kali dalam satu hari kita telah memberikan jawaban atas pertanyaan?

Ketika gua mencoba menjawab pertanyaan ini, gua geli sendiri. Lalu tertegun. Gimana enggak, tidak jarang gua menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sekenanya. Tidak jarang jawaban-jawaban tersebut adalah jawaban yang salah, tidak tepat, tidak pada tempatnya dan lain sebagainya.
Namun dengan jawaban-jawaban yang benar, justru sangat gampang diingat. Justru di situ bahayanya, bukan?

Gua jadi semakin yakin bahwa gua adalah manusia bodoh. Yang akan terus berhadapan dengan masalah-masalah dan bertanya. Yang akan terus berpikir dengan pertanyaan. Yang akan terus bertahan hidup dengan bertanya. Dan ketika menemukan jawabannya, akan terus bertanya lagi. Dan lagi. Kadang gua berpikir, sepertinya cuma Dia yang punya jawaban. Jawaban-jawaban yang kita sering temui itu konon cuma kesimpulan-kesimpulan saja.

Sampai kapan gua akan bertanya?

Hanya Tuhan yang tau.

Bener kan?

"Mother, do you think they'll drop the bomb? Mother, do you think they'll like this song? Mother, do you think they'll try to break my balls? Mother, should I build the wall? Mother, should I run for president?
Mother, should I trust the government? Mother, will they put me in the firing line? Or is it just a waste of time? Mother, do you think she's good enough, for me? Mother, do you think she's dangerous, to me? Mother, will she tear your little boy apart? Mother, will she break my heart? Mother, did it need to be so... high?" Mother, Pink Floyd.

Friday, October 06, 2006

And Now I'm Alone

And now I'm alone
The plug is off
The light is out
The crowd turns to one

As this door closes
As the wheels turn
As it waves the night
I'm all alone

Maybe it's the voice
Maybe it's the sense
Maybe it's love

For tonight
I'm all alone.. again.

Wednesday, October 04, 2006

Usang

Dulu kami menyayembarakannya sebagai sebuah himne identitas diri. Masing-masing beradu kreatifitas memberikan yang terbaik untuk sebuah wujud persatuan sebuah kumpulan. Golongan. Kasta. Kebanggaan.

Ketika memakainya, dada mendadak membusung. Ketika orang melihat kami memakainya, pongah pun tak terelakkan dari muka kami. Ucapan gila sekalipun tak bisa melunturkan semangat yang membungkus badan-badan kami.

Setahun berlalu. Kami, atau paling tidak aku masih memakainya. Masih segar dalam ingatan dan darah: "Ini asalku." Wajah-wajah tadi pun masih kental dalam browser memori. Belum ada yang langsung memanjangkan rambutnya sampai sepuluh senti. Tidak. Tidak secepat itu. Belum ada yang berubah.

Lima tahun berlalu. Aku masih memakainya. Kali ini untuk tidur. Maklum, warnanya sudah putih tua. Sablonannya juga memudar. Sesekali saja memori tadi mengingatkan senyum, lantas kemudian terlelap tidur. Capek. Dunia ini berwarna sekali. Dan dia jelas sudah ketinggalan zaman. Dan.. ya.. aku sudah tertidur...

Hampir sepuluh tahun sudah sekarang. Masih saja kupakai tidur. Tidak ada lagi memori. Hanya saja dia selalu setia menunggu di lemari untuk kutiduri. Andai ketika tidurku, dia bisa sekali saja merebut ingatanku untuk dia, bercerita sedikit tentang masa lalu. Golongan. Kasta. Kebanggaan..

Namun kau telah menyempit atau aku yang menggendut. Kerahmu tak lagi menyeka keringatku. Warnamu tak bisa juga disebut vintage. Dan ketika tidur, sering kau undang angin masuk ke tubuhku. Menggangu nyenyak lelahku. Atau sekedar memperlambat harapan pagiku.

Aku tak lagi layak bersamamu. Kau kusimpan saja untuk cerita anak-anakku. Tak bisa juga kau serap deterjen dari lantai-lantai itu. Atau kilauan semir mobilku akan merasa hina oleh usapanmu.

Diamlah di situ. Di lemariku.

• Tentang kaos almamater dan idola-idola yang jatuh..tuh!

I guess I'm a record you're tired of
I guess we're just older now
I guess I'm a toy that is broken
I guess we're just older now
Broken Toy, Keane.

Tuesday, October 03, 2006

Rencana Besar

Ada sebuah hiburan menarik dalam perjalanan gua ke kantor pagi tadi. Sebuah talk show di radio yang membicarakan tentang perkawinan. Segala aspek dibicarakan dari hal yang standar sampai ke perceraian segala. Namun apa yang menghibur gua bukan pada pembahasan detailnya.

Adalah suara seorang gadis dewasa (begitu gua menyebutnya, karena dalam pembicaraannya dia menyebutkan dirinya belum kaw.. nikah.) yang bertutur panjang lebar dan penuh semangat tentang perkawinan menurut perspektifnya. Bahwa nantinya perkawinan itu harus tetap mempunyai 'burning flame'. Bahwa nantinya pasti akan ada ups and downs. Dan dari situ kita akan lebih bisa mem-value kebahagiaan dan seterusnya daaaan seterusnya.

Gua yang baru menjalani 4 tahun perkawinan tentu saja mesem-mesem dengan celotehan si nona tadi. Pengen rasanya nyeletuk "Ah.. teori!" Namun biar bagaimana pun gua harus tetap menghargai pendapat-pendapat seperti itu bagi mereka yang di seberang sana. Dengan berbagai alasan dan kondisi toh dia belum berada dalam status istri. Atau pasangan resmi secara hukum.

Masing-masing diri kita adalah desainer ulung dalam membuat sebuah rancangan. Apalagi rancangan tersebut memuat gambar diri kita di dalamnya. Tentunya, dengan kualifikasi yang kita punya, kita bisa membuat suatu gambaran yang sempurna tentang rencana itu. Dengan menyesuaikan dengan ego, berdebat dengan harapan -apakah diformulasikan lebih tinggi atau pas-pasan aja-, sedikit toleransi dengan pihak lain dan sukur-sukur dedi dores! (dengan disertai doa restu). Maka jadilah rancangan besar itu. Begitu indah, begitu sempurna.

Dan ketika esoknya kita menjumpai rencana-rencana tersebut, apa yang terjadi?

Sebuah acara perhelatan akbar berjalan kacau disebabkan oleh ketidak-siapan panitia atau faktor-faktor tidak terduga lainnya.

Gambaran-gambaran kampus yang ideal menjadi rusak karena tidak ada cewe/cowo cakep untuk digebet. Atau karena senior yang maha sok asik.

Iming-iming kantor baru yang menjanjikan segala fasilitas terbaiknya harus dilupakan dulu ketika berhadapan dengan klien yang... kurrrang menyenangkan.

Atau mendapati sang pacar ternyata mengorok ketika tidur siang sekalipun.

Oh iya, berhadapan dengan iuran-iuran listrik, telepon dan kartu kredit ketika mulai hidup bersama sebagai pasangan suami istri.

Should I go on with governments and politics? Oh well.

Bagaimana dengan rencana besar tadi?

Kawan, jalanin ajeeee. Rencana besar tadi boleh tetap kita pegang dan diimpikan. Namun harus dibarengin juga dengan kesiapan kita menghadapi segala sesuatu yang melenceng nantinya.

Untuk kebaikan kita sendiri? Belum tentu sih. Tapi bersedia melakukannya, buat gua itu lebih baik.

Sebuah quote bijak pernah mengatakan: "If you want to make God laugh, tell Him about your masterplan"