Monday, December 19, 2005

Cinta Yang Lain

Aku juga cinta. Percaya tidak? Menyentuhmu lembut di kulitmu, hidungmu, rongga kerongkonganmu. Membuat tersenyum tanpa menggigilkan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan matahari dengan kesejukan. Agar ia tak lagi sengit yang membuat kau demam.

Berkali-kali aku terbang di dunia. Melayang ringan oleh angin. Turun kemudian dengan pelangi.
Tak sering kau melihatku, yang kecil. Seperti kuman yang lebih sering kau takutkan. Dan setiap hari di pagi-pagi itu, apakah kau melihatku?

Banyak sajak teriring olehku. Banyak kemarau merindukan namaku. Banyak harap berselimut olehku. Bukan terabaikan. Namun sering tak bernyawa. Lebih kuat dari cinta-cinta itu.

Aku juga cinta. Menghadirkan rindu untukmu. Dan kalau rindu itu pun hadir. Cinta pun tersebut. Ingatkah kau kapan terakhir menyebut ‘cinta’?

Aku pun cinta. Kau pun cinta. Kita sering tidak menyebutnya. Hanya mau bersahabat atau mempertanyakannya. Bukan menjadikannya.

Melayanglah ringan. Pakailah pelangi. Sentuh lembut rongga-rongga hatimu. Jadilah cinta.


Image hosted by Photobucket.com(Percakapan dengan embun di salah satu sudut bangunan kantor. Pengap. Gelap. Di luar.. hujan.)

Tuesday, December 06, 2005

Sumpe, loe?!

Berhati-hatilah dengan sumpah. Simak kembali janji-janjimu. Hal-hal itu yang merubah dan membuat dunia seperti sekarang ini.

Sebuah cerita yang baru saja gua baca masih berkecamuk di hati dan pikiran gua. Tentang sebuah janji dan sumpah yang seseorang pegang teguh dan tetap dijalankannya. Hasilnya? Tak banyak merubah dunia. Tapi mungkin banyak memberi inspirasi bagi orang-orang di dunianya.

Sekuat apakah sebuah janji?
Gajah Mada pernah bersumpah untuk mempersatukan nusantara Indonesia. Tak begitu jelas berapa lama hal itu terwujud. Kitalah hasilnya.
Joni juga pernah berjanji untuk menepati waktu tayang sebuah film untuk gadis yang mengusik jiwanya. Ya, itu cinta.
Dan entah apa yang Osama bin Laden pikirkan sehingga dunia menjadi seperti ini sekarang. Tapi gua yakin itu berawal dari sebuah sumpah. Sebuah determinasi.

Dan sekecil apa pula janji itu sehingga menjadi sebuah dosa jika tidak ditepati?
Sebuah contoh sederhana saja, terlambat 10 menit saja sudah menjadi ganjelan tersendiri di benak kita. Lantas mungkin mencari-cari alasan. Menggerutu. Panik. Atau bisa jadi pasrah dan membiarkannya menjadi sebuah kebiasaan. Contoh-contoh lain bisa kita dapati menurut pengalaman kita sendiri. Silakan lho..

Hebat bukan? Banyak yang bisa berbuah dari sebuah janji.

Jadi teman-teman, kapan terakhir kita berbuat janji?

Oh iya, cerita itu… ada di alamat ini http://leonhakim.blogspot.com
(I cried for my brother six times)